INDONESIA
ENGLISH

Kevin Sanjaya, dari Juara Tarkam hingga All England

Reporter : Redaksi | Kategori:Olahraga | Dibaca:142 kali

Foto | Istimewa | dCentronews.com

Dcentronews - Jakarta

Pasangan ganda putra Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo berhasil memenangkan All England 2017 mengalahkan pasangan Tiongkok, Li Junhui/Liu Yuchen, di Barclaycard Arena, Birmingham, Minggu (12/3/2017).

Kemenangan tersebut disambut haru oleh orang tua Kevin Sanjaya Sukamuljo yang tinggal di Desa Sumberayu Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi. Kevin lahir di Banyuwangi 2 Agustus 1995, dan merupakan anak kedua dari pasangan Sugianto (57) dan Niawati (51).

"Saat pertandingan saya nonton dari rumah berdua dengan mamanya Kevin. Saya sudah ada feeling jika anak saya menang. Mamanya sempat gugup dan ketika tahu menang, kami langsung sujud syukur. Ini berkah bukan hanya untuk keluarga tapi untuk Indonesia," jelas Sugiharto (57), ayah Kelvin saat ditemui Kompas.com Rabu (15/3/2017) di kediamannya.

Lelaki kelahiran Jakarta 12 Agustus 1960 tersebut kemudian menunjukkan piala dan medali yang sudah didapatkan anak keduanya tersebut. Selain piala dan medali, ada pula klipingan koran yang memberitakan tentang anaknya.

Semua klipingan tersebut tersusun rapi di dalam map berwarna kuning.

"Semua data tentang Kevin saya kumpulkan di map ini. Lengkap. Kalau ditanya berapa jumlah medali dan pialanya saya nggak hapal. Kalau ini piala pertama saat dia ikut tarkam di Muncar," katanya sambil tersenyum.

Sejak kecil, menurut Sugiharto, Kevin sudah menunjukkan ketertarikannya pada olahraga bulutangkis. Saat masih usia 3,5 tahun, Kevin sering diajak ayahnya untuk bermain bulutangkis di dekat rumahnya.

Saat mencoba pertama kali, Kevin langsung lancar mengayunkan raket. Melihat kemampuan anaknya,lelaki yang akrab dipangggil Gik tersebut memutuskan untuk mencarikan pelatih untuk dua anaknya, Kevin dan Nico, kakak pertama Kevin.

Klub petama yang dipilih adalah PB Putra Jember yan berjarak sekitar 100 km dari rumah mereka yang berada di Kecamatan Muncar Banyuwangi. Untuk menuju kesana dibutuhkan waktu lebih dari dua jam.

"Kevin saat itu masih TK. Pulang sekolah sekitar jam 11 siang langsung saya jemput ke sekolah terus berangkat ke Jember. Mereka latihan mulai jam 1 siang, nanti jam 5 sore kembali lagi ke Banyuwangi. Seminggu empat kali dan itu dilakoni selama setahun," jelasnya.

Di dalam mobil, Gik dan istrinya sudah menyiapkan semua keperluan anak-anaknya mulai dari bantal untuk beristirahat di mobil, makanan, hingga baju ganti. Semua aktivitas tersebut dilakukan di dalam mobil.

Ia sengaja mencari pelatih profesional untuk melatih dasar bulu tangkis. Setelah menguasai dasar, Kevin dan Nico berlatih dengan beberapa pelatih bulu tangkis yang ada di Banyuwangi dan sekitarnya.

"Sengaja saya cari pelatih yang benar-benar bagus karena itu awal belajar. Dasar dari mereka bermain bulutangkis. Setelah itu setiap dengar ada pelatih bulu tangkis yang bagus saya selalu antar kedua anak saya ke sana. Kemanapun itu. Ke Surabaya, Situbondo bahkan pernah ke luar Jawa Timur," jelasnya.

Saat itulah Kevin dan Nico mulai mengikuti turnamen bulu tangkis dari tingkat kampung hingga Kabupaten. "Saat tanding tarkam sekitar sini saja, Kevin selalu jadi juara," jelasnya.

Setelah lulus SD tahun 2007, Kevin kemudian diterima di PB Djarum di Kudus. Lalu di 2009 ke Jakarta dan terakhir di Pelatnas Cipayung sejak lima tahun terakhir.

Berbeda dengan kakaknya, Nico, yang fokus di bidang akademisi, Kevin memantapkan pilihannya di bulu tangkis dengan dukungan kedua orangtuanya.

"Saya selalu dukung apapun keinginan anak saya. Sekarang kakaknya Kevin, kuliah di Udayana. Mereka terpaut sekitar 3 tahun," jelas Gik.

Tahun 2016 Kevin juga berhasil meraih tiga kali medali emas pada gelaran bulu tangkis yang diadakan Badminton World Federation (BWF), yaitu pada Australia Terbuka, India Terbuka, dan China Terbuka. Kevin berpasangan dengan Marcus Fernaldi Gideon.

"Dengan pasangannya yang sekarang mereka sudah bertanding bersama sekitar 5 tahun hingga jadi juara All england," jelasnya.

Keputusan Kevin untuk fokus di dunia bulutangkis membuat ia harus berpisah dari keluarga. Sejak berusia 11 tahun, Kevin kecil yang baru saja lulus SD sudah harus hidup mandiri di PB Djarum Kudus dan hanya mendapatkan kesempatan pulang ke Banyuwangi setahun dua kali.

Sedangkan kini, ia bisa pulang setahun kini. Jika pulang, biasanya Kevin jalan-jalan mengelilingi Banyuwangi.

Menurut Niawati, ibu Kevin, anaknya terakhir pulang pada libur Natal dan Tahun Baru pada 2016 lalu. Kesempatan tersebut selalu dimanfaatkan Kevin untuk berwisata bersama kakak dan keluarganya.

"Tahun kemarin saat pulang dia ke Pulau Tabuhan dan ke Ijen. Dia memang suka traveling. Anaknya nggak bisa diam," kata Niawati.

Niawati mengaku, dia dan suaminya memang hobi berolahraga. Bahkan rumahnya, digunakan warga sekitar untuk senam tiga kali dalam seminggu.

Di rumahnya, sambung Niawati, terdapat meja pingpong yang bisa digunakan sewaktu-waktu. Bahkan di toko miliknya, ia menjual raket bulu tangkis.

Sampai sekarang, Niawati merasa seperti mimpi ketika pertama kali mengantar Kevin ke PB Djarum karena seleksi untuk masuk kesana sangat ketat. Ia dan suami juga mengidolakan pemain bulutangkis legendaris, salah satunya Christian Hadinata yang ditemui mereka saat mengantar Kevil berlatih.

"Saat ketemu langsung Cristian di Djarum, saya sempat seperti tidak percaya.Saya dan suami memang mengidolakan dia. Dulu saat Susi menang di Barcelona saya sampai nangis dan sekarang anak saya sendiri yang juara. Ini benar-benar berkat dari Tuhan,"jelasnya.

Menurut Niawati, walaupun anaknya tidak tinggal serumah dengannya, komunikasi dengan Kevin berjalan dengan baik dan tiap hari selalu menelpon ke rumah. Saat akan melangsungkan pertandingan, Kevin juga selalu meminta restu kedua orangtuanya.

"Beberapa hari sebelum tanding Kevin selalu meminta restu dan dia akan fokus pada pertandingannya. Untuk terakhir kemarin saat menang, papanya langsung menelpon dan mengucapkan selamat langsung kepada Kevin. Saya sebagai orang tua pasti sangat bangga," pungkasnya.